Kristi Noem telah dicopot dari jabatannya sebagai Menteri Keamanan Dalam Negeri, digantikan oleh Senator Markwayne Mullin, sekutu setia Presiden Donald Trump. Pengumuman tersebut disampaikan melalui postingan Truth Social, yang menggambarkan kepergian Noem sebagai perubahan strategis menuju inisiatif keamanan “Perisai Amerika” yang baru. Langkah ini dilakukan setelah berbulan-bulan spekulasi dan meningkatnya pengawasan atas taktik penegakan imigrasi agresif Noem, insiden fatal yang melibatkan agen federal di bawah komandonya, dan praktik operasional yang kontroversial.
Kepemilikan yang Ditandai dengan Eskalasi
Kepemimpinan Noem di DHS mengawasi perluasan jangkauan dan anggaran lembaga tersebut secara dramatis, bertepatan dengan dorongan pemerintahan Trump untuk melakukan perubahan radikal dalam kebijakan perbatasan. Di bawah masa jabatannya, Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) dan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (CBP) telah menghadapi kritik atas taktik mereka termasuk penggerebekan tanpa surat perintah, kamp penahanan massal, dan rekor jumlah kematian dalam tahanan: 53 kematian pada tahun lalu saja.
Penegakan badan tersebut meningkat hingga agen federal diberi wewenang, melalui arahan kebijakan rahasia pada bulan Mei 2025, untuk secara paksa memasuki kediaman pribadi tanpa surat perintah, dan hanya mengandalkan dokumen penghapusan administratif. Kasus-kasus yang terdokumentasi mengenai agen yang memasuki rumah yang salah dengan todongan senjata semakin memicu kemarahan publik.
Insiden Fatal dan Konflik Internal
Noem secara terbuka membingkai kematian warga AS selama operasi federal di Minneapolis—Renee Good dan Alex Pretti—sebagai “teroris dalam negeri,” sebuah narasi yang digaungkan oleh Trump dan pejabat lainnya. Namun, bukti video, keterangan saksi, dan otopsi independen bertentangan dengan klaim DHS, termasuk pernyataan awal bahwa Pretti mengacungkan senjata api.
Konflik internal juga melanda masa jabatan Noem. Laporan menunjukkan adanya perselisihan antara Noem, Tsar Perbatasan Gedung Putih Tom Homan, dan penasihat senior Corey Lewandowski mengenai strategi deportasi, dengan Noem diduga memprioritaskan jumlah penangkapan dibandingkan pertimbangan lainnya. Sebuah laporan CNN menggambarkan pertemuan “kontroversial” antara Noem, Lewandowski, dan Presiden Trump pada bulan September, sementara The Wall Street Journal merinci sebuah insiden di mana Lewandowski berusaha memecat seorang pilot karena gagal mengantarkan selimut Noem di antara pesawat.
Kemacetan Birokrasi dan Keterlambatan Kontrak
Desakan Noem untuk secara pribadi menyetujui kontrak dan hibah lebih dari $100,000 menyebabkan simpanan besar-besaran di FEMA. Laporan Senat Partai Demokrat menemukan lebih dari 1.000 kontrak, hibah, dan penghargaan terhenti dalam proses pemeriksaannya, sehingga lembaga tersebut kurang siap menghadapi bencana alam. Sementara itu, DHS berkomitmen melakukan upaya pengadaan senilai $38 miliar untuk mengubah gudang yang ada menjadi kamp penahanan massal bagi orang yang dideportasi.
Implikasi yang Lebih Luas
Pemecatan Noem menandakan potensi perubahan dalam pemerintahan, meskipun penggantinya, Senator Mullin, diperkirakan akan mempertahankan sikap garis keras terhadap imigrasi. Kontroversi seputar Noem menggarisbawahi pertanyaan yang lebih luas tentang batasan kekuasaan federal, akuntabilitas atas insiden fatal yang melibatkan penegakan hukum, dan keseimbangan antara keamanan dan kebebasan sipil. Transisi ini juga terjadi di tengah meningkatnya tantangan hukum terhadap kebijakan era Trump, termasuk keputusan Mahkamah Agung baru-baru ini yang membatalkan sebagian besar struktur tarif pemerintah.
Fase selanjutnya dari arah Keamanan Dalam Negeri akan dibentuk oleh ketegangan yang sedang berlangsung antara penegakan hukum yang agresif, hambatan birokrasi, dan pengawasan dari masyarakat yang sangat terpecah.




























