Pentagon vs. Anthropic: Perlombaan Senjata AI dan Pencarian Bakat “Agentik”.

17

Departemen Pertahanan A.S. (DOD) terjebak dalam perselisihan yang semakin meningkat dengan Anthropic, sebuah perusahaan AI terkemuka, mengenai persyaratan kontrak senilai $200 juta. Masalah intinya? Pentagon menginginkan akses tidak terbatas terhadap teknologi AI Anthropic, termasuk untuk aplikasi yang berpotensi kontroversial seperti sistem senjata otonom, sementara Anthropic menekankan batasan etika – tidak ada pengawasan dalam negeri atau mesin pembunuh yang sepenuhnya otomatis. Bentrokan ini bukan hanya soal kode; ini tentang kontrol, nilai-nilai, dan masa depan AI militer.

Ultimatum Pentagon: Kepatuhan atau Pembatalan

DOD, di bawah Sekretaris Pete Hegseth, pada dasarnya telah mengeluarkan ultimatum kepada Anthropic: penuhi tuntutan mereka pada hari Jumat, atau berisiko kehilangan kontrak yang menguntungkan. Ini bukan sekadar taktik negosiasi; itu adalah permainan kekuatan. Pentagon punya alternatif lain – mereka sudah bermitra dengan xAI, perusahaan AI milik Elon Musk, yang tidak menerapkan pembatasan yang sama. DOD belum tentu membutuhkan teknologi Anthropic; mereka ingin menunjukkan bahwa perusahaan yang menerima uang pemerintah tidak bisa mendikte persyaratan.

Hal ini merupakan bentuk pengaruh yang blak-blakan, yang berpotensi menggunakan Undang-Undang Produksi Pertahanan – yang biasanya diterapkan pada keadaan darurat di masa perang atau kekurangan yang kritis (seperti produksi masker selama pandemi) – untuk memaksa kepatuhan. Langkah ini agresif dan menunjukkan bahwa Pentagon lebih peduli pada penetapan preseden dibandingkan kemampuan AI tertentu.

“Woke AI” dan Persenjataan Nilai

Retorika Pentagon sangat tajam: mereka tidak ingin “membangunkan AI.” Ini bukan tentang kinerja teknis; ini tentang keselarasan ideologis. Departemen Pertahanan menginginkan AI yang beroperasi tanpa “batasan ideologis”, yang berarti tidak ada batasan etis dalam penerapan militernya. Hal ini memberikan pesan yang jelas kepada industri teknologi: jika Anda menginginkan kontrak pertahanan, Anda harus bersedia memprioritaskan efektivitas operasional dibandingkan pertimbangan moral.

Situasi ini menyoroti tren yang lebih luas: pemerintah semakin menegaskan kendali atas pengembangan AI, dan melawan perusahaan-perusahaan yang berupaya menerapkan pembatasan berbasis nilai. Ini bukanlah pertarungan baru. Pemerintahan Trump juga mengalami penolakan serupa, namun perusahaan-perusahaan teknologi secara umum tidak melakukan hal yang sama. Potensi penolakan Anthropic dapat mematahkan pola tersebut.

Kesenjangan Agenik vs. Mimesis di Silicon Valley

Sementara itu, Silicon Valley dipenuhi obsesi baru: mengidentifikasi apakah individu bersifat “agen” atau “mimesis”. Orang yang agenik digambarkan sebagai orang yang tegas, berorientasi pada tindakan, dan mandiri. Individu mimesis adalah individu yang berhati-hati, kolaboratif, dan menunggu orang lain untuk memimpin. Kerangka kerja ini sekarang digunakan dalam perekrutan di laboratorium AI, dengan asumsi bahwa tipe agen akan berkembang di masa depan yang didominasi AI, sementara tipe agen mimesis akan tertinggal.

Tren ini pada dasarnya adalah tes kepribadian berteknologi tinggi. Hal ini mencerminkan kekhawatiran terhadap otomatisasi dan perubahan sifat pekerjaan. Pertanyaannya bukanlah apakah label tersebut akurat; hal ini mengungkap bagaimana Silicon Valley memandang nilai kemanusiaan di era kecerdasan buatan.

Kabel Bawah Laut dan Warisan Infrastruktur

Dalam berita lain, kabel bawah laut TAT-8, penghubung penting dalam infrastruktur internet awal, telah dinonaktifkan. Meskipun tidak sedramatis perseteruan AI, akhir dari perseteruan ini mengingatkan kita pada fondasi fisik dunia digital. Kabel-kabel ini penting untuk konektivitas global, namun sekarang sudah ketinggalan zaman.

Ini merupakan pengingat bahwa teknologi dibangun berlapis-lapis – perangkat lunak bergantung pada perangkat keras, dan perangkat keras bergantung pada infrastruktur fisik. Kisah tentang kabel TAT-8 adalah sebuah peringatan kecil: bahkan sistem yang paling tahan lama pun akan memudar, dan inovasi memerlukan adaptasi terus-menerus.

Kesimpulannya, perselisihan antara Anthropic dan Pentagon bukan hanya soal etika AI; ini adalah ujian kekuasaan dan kendali. Obsesi terhadap sifat-sifat “agentik” di Silicon Valley mencerminkan ketakutan yang lebih mendalam terhadap otomatisasi dan relevansi manusia. Dan penonaktifan kabel TAT-8 menggarisbawahi sifat sementara dari teknologi yang paling penting sekalipun. Masa depan akan datang, dan peristiwa-peristiwa ini sedang menentukan masa depannya.