Bangkitnya “Waktu yang Sangat Tiongkok”: Mengapa Barat Terobsesi terhadap Tiongkok

20

Sebuah tren aneh telah meledak secara online: orang-orang menyatakan bahwa mereka hidup di “zaman Tiongkok.” Mulai dari jaket Adidas yang viral hingga pesta dim sum, penggunanya menyukai estetika dan aktivitas berkode Tiongkok, dengan selebriti seperti Jimmy O Yang dan Hasan Piker ikut bergabung. Hal ini telah melahirkan cabang seperti “Chinamaxxing” dan afirmasi seperti “kamu akan menjadi orang Tiongkok besok.” Tapi ini bukan hanya meme yang unik; ini adalah gejala perubahan yang lebih dalam.

Ironi Ketergantungan

Meskipun ketegangan perdagangan dan retorika anti-Tiongkok sedang berlangsung, konsumsi produk-produk Tiongkok di negara-negara Barat telah melonjak. Generasi muda khususnya bergantung pada teknologi, merek, dan manufaktur Tiongkok. Ketergantungan ini telah menciptakan kenyataan aneh di mana satu-satunya langkah logis berikutnya adalah merangkul budaya itu sendiri. Influencer Chao Ban bercanda tentang hal itu di TikTok, menyoroti keberadaan barang-barang buatan Tiongkok dalam kehidupan sehari-hari.

Tiongkok sebagai Counterpoint

Tren ini bukan tentang apresiasi budaya yang sejati; ini adalah proyeksi yang lahir dari ketidakpuasan terhadap Barat. Seperti yang dijelaskan oleh peneliti Harvard, Tianyu Fang, meme-meme ini berfungsi sebagai kritik terhadap memburuknya infrastruktur Amerika dan normalisasi kekerasan negara. Di dunia di mana Amerika tampaknya sedang runtuh, Tiongkok, dengan kereta berkecepatan tinggi dan gedung-gedung pencakar langit yang modern, telah menjadi alternatif yang aspiratif.

Kritikus sering kali menyoroti kekuatan Tiongkok—investasi energi ramah lingkungan, pembangunan perkotaan—untuk mempermalukan AS, namun selektivitas ini memang disengaja. Tiongkok bukanlah tempat yang nyata dan lebih merupakan abstraksi yang digunakan untuk mengungkap kegagalan Amerika. Seperti yang diungkapkan oleh penulis Minh Tran, Orientalisme Barat telah berubah dari bersifat merendahkan menjadi aspiratif.

Realitas yang Tidak Dapat Dihindari

Dominasi Tiongkok di bidang manufaktur tidak bisa dihindari. Mulai dari ponsel dan laptop hingga model AI dan kendaraan listrik terlaris di dunia, semuanya dibuat di Tiongkok. Tarif yang diterapkan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan betapa ketergantungan negara-negara Barat terhadap ekspor Tiongkok. Pada saat yang sama, hambatan bahasa telah teratasi berkat alat penerjemahan yang canggih, sehingga komunikasi langsung dengan pabrik di Tiongkok menjadi lebih mudah dari sebelumnya.

Pengaruh Negara vs. Lelucon Viral

Meskipun beberapa orang menduga konten yang disponsori negara Tiongkok berada di balik tren ini, kenyataannya propaganda kasar tidak dapat bersaing dengan humor viral yang organik. Lelucon acak tentang meminum air panas sebagai “orang Tionghoa” akan selalu menyebar lebih cepat daripada kampanye keras pemerintah.

Identitas Sekali Pakai?

Bagi banyak orang, tren ini hanyalah kesenangan yang tidak berbahaya, sebuah cara untuk menunjukkan kekaguman terhadap budaya Tiongkok. Beberapa pencipta Tiongkok bahkan ikut serta dan bercanda bahwa menikmati hot pot menjadikan Anda orang Tionghoa. Namun, ada pula yang menganggapnya dangkal dan performatif. Seniman diaspora Tiongkok Yunyun Gu menunjukkan bahwa keterlibatan di tingkat permukaan—makan makanan Tiongkok atau mempelajari beberapa frasa—tidak sama dengan memahami budaya itu sendiri.

“Sangat mudah untuk mengikuti tren apa pun untuk menghindari FOMO, dan tren tersebut terjadi di Tiongkok saat ini,” kata Yunyun Gu.

Meme “waktu yang sangat Tiongkok” pada akhirnya merupakan cerminan dari hubungan kompleks Barat dengan Tiongkok: ketergantungan, rasa iri, dan pengakuan yang semakin besar atas dominasi Barat yang tidak dapat dihindari. Ini adalah tren yang lebih mengekspos negara-negara Barat dibandingkan Tiongkok.