Seagram pernah menjadi raja minuman beralkohol sulingan yang tak terbantahkan. Berkantor pusat di Kanada, perusahaan ini menyandang gelar produsen dan distributor terbesar di dunia sebelum asetnya dibongkar dan dijual. Ceritanya bukan hanya tentang minuman keras; ini tentang poros perusahaan, peralihan generasi, dan momen ketika sebuah merek lama memutuskan untuk berhenti menggunakan botol untuk mengejar layar.
Transformasi dimulai pada tahun 1928. Distillers Corp., Ltd. milik Samuel Bronfman yang berbasis di Montreal menelan Joseph E. Seagram & Sons. Penggabungan tersebut menciptakan Distillers Corporation-Seagrams Ltd. Waktu adalah segalanya. Perusahaan ini mengikuti jejak berakhirnya Larangan di Amerika Serikat, berkembang pesat hingga akhir tahun 1920-an dan seluruh dekade tahun 1930-an. Pada tahun 1940-an, Seagram telah melampaui semua pesaingnya dan menjadi penyuling dominan di Kanada dan Amerika.
Edgar M. Bronfman mengambil alih kendali pada tahun 1971. Di bawah bimbingannya, perusahaan tersebut berhenti hanya mengandalkan wiski campuran warisannya. Sebaliknya, perusahaan ini melakukan diversifikasi secara agresif. Portofolionya membengkak hingga mencakup Scotch, bourbon, rum, vodka, gin, dan beragam anggur. Ekspansi geografis pun mengikutinya. Seagram menyebar ke Eropa, Amerika Latin, Asia Timur, dan Afrika, mengubah perusahaan besar di kawasan ini menjadi konglomerat minuman global.
Narasinya berubah drastis pada tahun 1989. Edgar M. Bronfman Jr. menggantikan ayahnya. Bronfman yang lebih muda memiliki ambisi berbeda. Dia melihat batas tertinggi dalam alkohol dan batas tertinggi dalam media. Jadi, dia mulai menjual bisnis minuman kerasnya kepada pesaing. Dengan uang tunai yang terkumpul, dia membeli aset hiburan. Permata mahkotanya adalah MCA, perusahaan induk Universal Pictures. Dia juga mengakuisisi Polygram NV, sebuah label musik besar.
Ini bukan sekedar strategi diversifikasi. Itu adalah jalan keluar yang lengkap. Pada tahun 2000, Seagram telah bergabung dengan raksasa media Perancis Canal Plus dan Vivendi. Nama Seagram mulai meredup sebagai merek konsumen di kalangan spirit. Pada tahun 2002, setiap aset terakhir Seagram Company Ltd. yang lama telah diakuisisi oleh entitas lain. Pembuat wiski menjadi catatan kaki, sementara pemiliknya sebelumnya beralih ke dunia film dan musik.
Peralihan dari hiburan ke hiburan tidak terjadi secara bertahap. Aksi jual ini dipimpin oleh pemimpin generasi kedua yang melihat nilai lebih di studio film dibandingkan di penyulingan.
Warisan Seagram masih tersimpan di dalam botol, namun entitas korporat yang membangun kerajaan tersebut telah tiada. Sejarahnya memberikan studi kasus yang jelas tentang bagaimana raksasa industri yang dikelola keluarga dapat beralih ke aset media, dan sering kali meninggalkan industri aslinya.

























